Si Tua Lain di Nenggala

Berkesempatan ke Toraya untuk sebuah kunjungan beberapa hari. Menjelang akhir waktu, saya paksakan memenuhi keinginan melepas rindu pada Nenggala.

Nenggala dalam ingatan yang hidup dalam memori,  pemandangan jejeran tongkonan tua berhadap jejeran lumbung. Saking tuanya atapnya yang terbuat dari bambu tallang sebagian besar telah berwana hijau ditumbuhi lumut hingga Barang-barang, bagian dari marga besar Pteridophyta, disudut-sudut atap hampir seluruh tongkonan.

Nah, ingatan itu tumbuh sejak kunjungan pertama tahun 1997 silam. Setelah itu Nenggala adalah kenangan. Kenangan tentang Toraja yang mengakar dalam otakku yang bertugas menyimpannya. Sebab Ketekesu, Lemo, dan Londa apalagi pasar Rantepao sudah terlalu mainstream hingga tak samar lagi dalam ingatan.

Itu sebabnya kunjungan ini (awal 2015) saya harus ke Nenggala, membunuh rindu, menyegarkan ingatan, menumbuhkan semangat bahwa daya ingatku pada jejeran rumah menghap utara dan lumbung yang ditatapnya masih berlumut. Dimana puncak bumbungannya selalu riuh dengan teriakan kawanan Rio-rio.

Sebelum petang menjemput hari terakhir kunjungan kali ini, tur singkat dimulai lagi. Bergegas perjalanan kami ke Nenggala. Ya Nenggala yang baru saya tahu secara geografis lebih luas, sebab bukan sekedar situs Tongkonan tua di Toraja Utara, tapi sebuah kecamatan. Kamu pasti tahu sebuah kecamatan bagi orang awam, adalah akumulasi dari kampung, dusun atau lingkungan, dalam wilayah administarif  lembang. Lembang, pemerian untuk kata ganti desa disini.

Tongokona pertama jelas bukan Nenggala dalam harapku. Lalu kami bertanya agar tak menjadi turis lokal yang  konyol, pulang dengan lesu karena jaga gengsi akibat malu bertanya. Sebuah arah kami peroleh, kami menuju. Dan akhirnya menemukan Tongkonan tua yang pasti tak ada orang yang mau menghuninya, sebab sudah ditumbuhi Ramba (Beringin) dan pakis yang rapat.

Tongkonan Tua di Nenggala, Toraja Utara (Darmawan Denassa)

Berdiri di belakang Tongkonan yang telah ditumbuhi Beringin dan Barang-barang di Nenggala, Toraja Utara

Ini bukan tongkonan yang saya cari. Tapi dia mengukuhkan anggapanku bahwa setiap Anda tersesat di Toraja akan menemukan pemandangan indah, memesona, dan takjub bagai kejutan yang diharapkan.

Senja telah benar-benar tiba. Kami masih ingin singgah di pasar memberi apa saja yang menarik yang mungkin disepakati isi kantong. Kami bergegas pulang ke arah kota. Temaram sudah berbias di perswahan nan landai di ujung lembang. Nenggala, jejeran tongkonan tua dengan halaman berpaving block terus bertahan dan menggoda. Semakin kuat. Bahkan seakan terkekeh dan menggoda dengan bisikannya; ‘temukan aku kalau kau bisa, Denassa!’.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *