Sebuah Cerita dari Taman Bunga Nusantara

Kabut masih belum meninggalkan Cipanas ketika angkot yang kami gunakan tiba di parkiran Taman Bunga Nusantara di Kawungluwuk, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.  Pukul tujuh pagi belum lewat seberapa, taman inipun sesungguhnya   belum buka untuk umum. Karena gerbang masuknya sudah terbuka, saya dan teman-teman menyangka tamannya telah buka.

Jadilah kami sekelompok anak Celebes yang begitu kegirangan karena kaget, bahagia, dan takjub menyaksikan sebuah taman luas nan indah. Kami kemudian asyik mengabadikan suasana, foto bersama atau sendiri.

Disaat asyik berfoto itulah seorang security menghampiri kami, menyampaikan bahwa taman belum buka. Kami diminta kembali ke halaman depan dekat pintu gerbang, menunggu hingga pukul 08.00 wib tiba agar bisa masuk dan membayar tiket.

Hah! Penyampaian itu membuat kami kaget, saling tatap dan diam. Pukul delapan! Tidak mungkinlah kami menunggu jam tangan atau jam diding menunjuk waktu itu, sebab kami sesungguhnya mencuri waktu pagi ditengah ikut Temu Nasional Layanan Publik di Ciloto dimana pukul itu waktunya peserta berkumpul di ruangan.

Tak pelak ketika kami sampai di gerbang  taman yang diresmikan Presiden Soeharto itu. Tawa kami pecah. Pecah karena kami tidak sadar telah tiba di taman begitu memesona, masuk tanpa bayar, foto-foto, dan diminta satpam keluar.

Tapi sebagai anak Makassar saya sudah minta maaf seketika tahu bahwa masuk taman ini bagi pengunjung dimulai pukul 8 pagi dan berbayar. Bahkan saya juga menanyakan pada beliau, kalau kami ingin bayar karena sudah masuk meski bulan waktunya.  Tapi security itu menyampaikan tidak perlu bayar.

Di Taman Bunga Nusantara Cipanas
Di Taman Bunga Nusantara Cipanas

Lalu apalah kami langsung kembali ke Ciloto? Tentu tidak, saya mengarahkan perjalan ke Istana Cipanas■ Darmawan Denassa

Kunjungan ini berlangsung di tahun 2010 silam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *