Diantara Puspa Pesona

Lapangan Menteng, Jakarta Pusat pagi itu sudah riuh dengan aneka suara burung, riang anak sekolah, dan sesekali suara penjaga aneka tanaman. Lebih seratus stand dari beberapa tempat di Jabodetabek meraiman Pekan Flora Fauna 2016. Salah satunya stand anggrek bulan atau Puspa Pesona asal Bogor. Saya tidak melewatkan mengabadikan diri di pintu gerbang stand yang dipenuhi anggrek bukan putih yang mengantung dari lagit-lagit stand serta hiasan aneka warna jenis yang sama di kiri dan kanan stand ini. (Darmawan Denassa)

Diantara Warna Warni Anggrek Bulan (Darmawan Denassa)
Diantara Warna Warni Anggrek Bulan (Darmawan Denassa)

Hujan Bulan Juli

Sabtu (16/7/16) pagi selepas subuh ketika menyatukan lembar daun jati yang jatuh,  di atas rerumputan Pelataran Mappasomba, titik-titik air halus sudah jatuh satu persatu. Awan memang berarak dari timur sebelum azan subuh berkumandang.

Telah lewat sepekan hujan tak turun. Hujan terakhir bulan ini jatuh di hari Sabtu pekan lalu, ketika itu kami tidak menikmatinya karena hujan turun saat kami sedang dalam perjalanan dari Sulbar. Hanya sisanya yang bercerita lewat genangan di tepi jalan antara Makassar-Rumah Hijau Denassa (RHD).

Dan benar saja hujan kedua bulan Juli 2016 turun sekitar pukul 08 pagi ini.  Belum terlalu deras. Reda sekitar pukul 8.30 hingga setelah Dzuhur. Dan jarak waktu itulah waktu cerah di siang hari ini. Hujan turun lebih deras pukul 13.40 Wita berlangsung hingga menjelang Magrib. dengan beberapa kali jeda.Hujan hari ini di sekitar Rumah Hijau Denassa (RHD) merupakan hujan paling deras antara akhir Mei hingga pertengahan Juli tahun ini. (Darmawan Denassa)

Catatan Kaki:

Pelataran Mappasomba, satu dari dua pelataran di Rumah Hijau Denassa (RHD), pelataran ini lebih besar dari pelataran yang satu lagi (Pelataran Karannuang) dimenesinya 24 x 38 meter dengan bentuk yang tak simetris.

Darmawan Denassa: Hujan Bulan Juli (16.07.2016)
Darmawan Denassa: Hujan Bulan Juli (16.07.2016)

Bertemu Kesemek di Melayu

Malam telah larut ketika saya melintas di pertemuan ujung jalan Terminal Kampung Melayu.

Kami pulang dari Casablangka setelah bernostalgia makan konro bakar di warung milik Maming Daeng Tata. Cukup lama tak melintasi Kampung Melayu, ternyata beberapa bagian tidak banyak berubah, salah satunya penjual buah di sudut jalan bagian barat sebelah utara.

Dari jejeran buah yang dijual terdapat jeruk, anggur, salak pondo (Salacca zalacca), pisang, dll. Dari aneka buah itu, perhatian saya langsung tertuju pada tumpukan buah bulat berbedak kapur putih. Ya, Kesemek (Diospyros kaki). Buah ini bagi saya cukup unik, karena warnanya yang putih dan tidak memiliki biji.

Pertama kali menemukan dan merasakan buah Kesemek terjadi 2013 silam di penjual buah tepi jalan di Sanur, Bali. Saya menemukan pohonnya pertama kali di Kaki Gunung Merapi 2015 silam. Kesemek ternyata bukan hanya unik bagi saya, tapi mengandung banyak manfaat untuk kesehatan.(*)

 

Buah Kesemek di penjual buah tepi jalan Kampung Melayu (Foto: Darmawan Denassa)
Buah Kesemek di penjual buah tepi jalan Kampung Melayu (Foto: Darmawan Denassa)

RHD dari Sudut Berbeda

Rumah Hijau Denassa (RHD) sering secara berkala menyegarkan suasana, dengan mengatur beberapa koleksi tumbuhan yang bisa dipindahkan. Atau mengatur ulang properti yang ada.

Suasana berbeda juga dapat ditemukan dari sudut pandang yang tak lazim. Salah satunya pada foto di atas, dimana teras diabadikan dari sebuah jendela ‘rahasia’ kecil di atas atap Bimbi Room. (Denassa)

Rumah Hijau Denassa (RHD) dari Pohon Aren Bimbi Room (Foto: Darmawan Denassa)
Rumah Hijau Denassa (RHD) dari Pohon Aren Bimbi Room (Foto: Darmawan Denassa)