Menyelamatkan Anggur Lokal Sulawesi

Anggur lokal Sulawesi telah diidentifikasi sejak masa penjajahan Belanda oleh seorang ahli botani asal Belanda. Penemuan pertama di sekitar Bantaeng tahun 1800-an. Sejak tahun 1999 saya telah mencari tanaman ini untuk diselamatkan. Awal 2016, inilah kami mendapat rezki untuk dipertemukan dengan Arro-arro nama lokal tanaman ini■ Darmawan Denassa Continue reading “Menyelamatkan Anggur Lokal Sulawesi”

Diantara Puspa Pesona

Lapangan Banteng, Jakarta Pusat pagi itu sudah riuh dengan aneka suara burung, riang anak sekolah, dan sesekali suara penjaga pameran tanaman yang sedang berlangsung di Waterlooplein (nama lama lapangan ini).

Waktu itu sedang berlangsung Pameran Flora Fauna (Flona) 2016. Tahu ivent ini saat melintasi lapangan Banteng dengan busway sehari sebelumnya selepas kegiatan di Kantor Wilayah Pos Jakarta.

Kesempatan belajar dan melihat aneka tanaman dan satwa tidak saya lewatkan. Puluhan stand tidak memberi saya rasa bosan untuk menyimak dan masukinya satu persatu. Peserta Flona didominasi peserta dari  Jabodetabek.

Menjelang akhir dari tour, saya menemukan sebuah stand yang dipenuhi bunga Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis) warna warni. Yang unik di stand ini bunga yang diidentifikasi  C.L. Blume ini ditata seperti belantara anggrek. Bukan hanya menempel pada tanaman tapi dibuat menggantung dari langit-langit stand.

Anjungan ini milik salah satu tempat pengembangan Puspa Pesona asal Bogor. Tanaman epifit ini ditata menarik dilengkapi dengan nama setiap jenisnya. Saya tidak melewatkan kesempatan untuk mengabadikan diri bersama meriahnya bunga indah di pintu gerbang stand■ Darmawan Denassa

Diantara Warna Warni Anggrek Bulan (Darmawan Denassa)
Diantara Warna Warni Anggrek Bulan (Darmawan Denassa)

Puspa Pesona penyebutan lain yang diberikan untuk Anggrek Bulan.

Hujan Bulan Juli

Sabtu (16/7/16) pagi selepas subuh ketika menyatukan lembar daun jati yang jatuh,  di atas rerumputan Pelataran Mappasomba, titik-titik air halus sudah jatuh satu persatu. Awan memang berarak dari timur sebelum azan subuh berkumandang.

Telah lewat sepekan hujan tak turun. Hujan terakhir bulan ini jatuh di hari Sabtu pekan lalu, ketika itu kami tidak menikmatinya karena hujan turun saat kami sedang dalam perjalanan dari Sulbar. Hanya sisanya yang bercerita lewat genangan di tepi jalan antara Makassar-Rumah Hijau Denassa (RHD).

Dan benar saja hujan kedua bulan Juli 2016 turun sekitar pukul 08 pagi ini.  Belum terlalu deras. Reda sekitar pukul 8.30 hingga setelah Dzuhur. Dan jarak waktu itulah waktu cerah di siang hari ini. Hujan turun lebih deras pukul 13.40 Wita berlangsung hingga menjelang Magrib. dengan beberapa kali jeda.Hujan hari ini di sekitar Rumah Hijau Denassa (RHD) merupakan hujan paling deras antara akhir Mei hingga pertengahan Juli tahun ini. (Darmawan Denassa)

Catatan Kaki:

Pelataran Mappasomba, satu dari dua pelataran di Rumah Hijau Denassa (RHD), pelataran ini lebih besar dari pelataran yang satu lagi (Pelataran Karannuang) dimenesinya 24 x 38 meter dengan bentuk yang tak simetris.

Darmawan Denassa: Hujan Bulan Juli (16.07.2016)
Darmawan Denassa: Hujan Bulan Juli (16.07.2016)