Mempersiapkan Buka Buku

Buka Buku telah 10 tahun tidak terlaksana. Dalam usaha mendorong minat baca, kami laksanakan kembali kegiatan ini di Rumah Hijau Denassa (RHD), sebagai bagian dari pelaksanaan Kampung Literasi Borongtala.

TBM Denassa menjadi bagaian penting pelaksanaan kegiatan yang akan menghadirkan berbagai pihak serta mengundang seluruh warga Borongtala, Kelurahan Tamallayang, Bontonompo ini. (Darmawan Denassa)

Darmawan Denassa dalam persiapan Buka Buku di Rumah Hijau Denassa (RHD)
Darmawan Denassa dalam persiapan Buka Buku di Rumah Hijau Denassa (RHD)

Rumah Hijau Denassa

Keluarga kami (Denassa) sejak  2009 berdomisili di Rumah Hijau Denassa (RHD) sebuah kawasan konservasi lingkungan dan tempat belajar bersama di Borongtala, Gowa.

Kawasan ini kami rintis sebelum 2007, ketika mulai menanam ragam pohon kelapa di tanah mirip baju oblong ini. Di atas bekas galian batu bata. Di atas bantilan. Di bagian barat  sebatang Flacourtia inermis yang memberi kesan kenangan 25 lalu karena ranum buah-buahnya yang begitu berkesan.

Ia rumah impian, tempat mengembalikan masa lalu, letak (hingga saat ini) paling tepat memanjatkan doa agar masa indah kembali setiap hari. Mengenang Tamarin indicus belakang rumah tempat saya tumbuh. Mengabadikan Dracontamelon dao yang dulu menjulang di jantung selatan kawasan ini. Menggantikan Magifera indica dan  Artocarpus heterophyllus yang tebang Tetta tahun 1999 silam.

RHD tempat mewujudkan hasrat memisahkan sampah sesuai jenisnya. Memurnikan tanah dari material yang kurang baik untuknya. Memungut lalu menyatukan daun untuk kembali pada asalnya. Membuat perigi di jaring akar serabut pohon bulu agar hangat dan dingin diwaktu yang tepat.

RHD bukan sekedar perjuangan mengharmonisasi tumbuhan, hewan, dengan manusia dan alam tapi ikhtiar mewujudkan mimpi jadi kenyataan● (Darmawan Denassa)

Di Tengah Buku di Shopping Center

Dimana bisa menemukan buku bekas dan baru di Djogjakarta, jawabannya tentu di Shopping Center.  Shopping, demikian kadang tempat ini disingkat, saat ini telah dipindahkan dan terletak di Jalan Sriwedari satu kawasan dengan Taman Pintar dan Taman Budaya Yogyakarta (TBY).

Kawasan ini bukan hanya tempat favorit bagi mahasiswa mencari dan membeli referensi, tapi juga penikmat buku. Itu sebabnya saya rela menempuh perjalanan pulang pergi dalam waktu enam jam dari Semarang ke Jogjakarta untuk bisa mencapai Shopping pertengahan Juni 2016 ini.

Dan hasilnya perjalanan itu sepadan, bisa membawa buku-buku yang saya butuhkan ke Rumah Hijau Denassa (RHD) sebanyak dua kardus besar. (Darmawan Denassa)

Darmawan Denassa di Shopping Center Djogjakarta
Darmawan Denassa di Shopping Center Djogjakarta

Ketep Volcano Center, Magelang

Tahun 2015 silam berkesempatan mengunjugi Ketep Volcano Center, di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Tempat ini dikenal juga dengan nama Ketep Pass, salah satu destinasi wisata yang berada di Ketep, Sawangan, Magelang.

Di Ketep Pass dikembangkan sebagai objek wisata dengan ciri khas wisata kegunungapian, lebih spesifik pada Gunung Merapi. Dari tempat ini terlihat jelas Gunung Merapi dan Merbabu. Tempat ini dibuka 17 Oktober 2002, oleh Presiden Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri. (Darmawan Denassa)

Darmawan Denassa di Ketep Volcano Center, Jawa Tengah
Darmawan Denassa di Ketep Volcano Center, Jawa Tengah

Tebing Putih Majene

Di Banggae, Majene, Sulawesi Barat terdapat rumah yang dibangun dari kikisan gunung kapur sehingga memberi nuansa tebing berwarna putih. Ketika ke Majene 2008 silam saya sempatkan mengabadikan moment ini, karena tahu warna putih pada tebing tidak akan bertahan secara alami.

Tahun 2011 warna tebing itu sudah berubah, tidak seputih dua tahun sebelumnya. (Darmawan Denassa)

Darmawan Denassa, di Tebing Putih Majene, Sulbar
Darmawan Denassa, di Tebing Putih Majene, Sulbar

Seribu Pintu di Lawang Sewu

Telah lama, bahkan sangat lama dalam usiaku mendengar, melihat di teve, dan membaca kemasyuran Lawang Sewu di tengah Kota Semarang, Jawa Tengah. Bersyukur akhirnya mendapat rezki mengunjunginya pertengahan Ramadhan 2016 ini. 

Lawang Sewu (bahasa Jawa)  bermakna Seribu Pintu. Nama itu diberikan pada gedung ini karena banyaknya pintu yang dimilikinya. Lawang Sewu pada masa penjajahan merupakan kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Dibangun selama tiga tahun (1904-1907). Terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelminaplein.

NIS sendiri merupakan salah satu perusahaan kereta api pada jaman penjajahan Hindia Belanda, perusahaan ini kadang diakronimkan menjadi NISM.  Perusahaan kereta yang melayani jalur di Jawa Tengah dan Ngayogyakarta Hadiningrat saat ini Daerah Istimewah Yogyakarta, Batavia, Buitenzorg, dan sekitarnya.

Sesungguhnya gedung ini masyur bukan karena sejarah, pintu, dan bentuknya semata. Tapi juga dikenal karena kisah horornya. Namun itu tahun-tahun lalu, sebab Lawang Sewu juga telah dikunjungi di malam hari. (Darmawan Denassa)

Darmawan Denassa di pelataran tengah Lawang Sewu, Semarang, Jawa Tengah
Darmawan Denassa di pelataran tengah Lawang Sewu, Semarang, Jawa Tengah

Pohon Katangka untuk Halaman Depan

Pohon Katangka merupakan tanaman kehormatan dalam kultur Bugis-Makassar. Kayu yang dihasilkan oleh pohon yang telah tiba usia penggunaannya dapat bertahan hingga ratusan tahun.

Mengembalikan kultur Makassar bersama tanaman ini, ujung tahun 2015 silam kami tanam sebatang Pohon Katangka dengan tinggi empat meter di halaman depan Rumah Hijau Denassa (RHD). Tanaman ini berdiri diantara Salam dan Srikaya halaman depan RHD. (Darmawan Denassa)

Menyiapkan lubang untuk menanam Pohon Katangka (Darmawan Denassa)
Menyiapkan lubang untuk menanam Pohon Katangka (Darmawan Denassa)
Pohon Katangka yang telah ditanam
Pohon Katangka yang telah ditanam